Selasa, 02 Maret 2010

Antara hati dan nafsu

Hari ini benar-benar hari yang mengecewakan bagiku. Semuanya berjalan di luar rencana dan kendaliku. Entah mengapa sepertinya ada yang berubah dalam hidupku. Sayangnya aku merasa perubahan yang sedang terjadi ini bukan perubahan yang positif, tapi cenderung perubahan yang negatif dan kacau. Seolah-olah ada tenaga lain yang memaksaku untuk melakukan perubahan ini. Aku merasa payah, lemah, dan lelah tak bertenaga untuk melawan kekuatan jahat tersebut. Sedikit demi sedikit kekuatan jahat tersebut mengambil alih kendali atas diriku sendiri. Aku merasa dikuasainya dan tak mampu menolak perintah-perintah dan keinginannya, walaupun kusadari semua perintah dan keinginannya cenderung jelek dan melanggar. Namun apa daya, aku tak mampu melawannya. Sungguh…, kasihan benar diriku…, lemah dan tidak berguna. Kalah dan mudah dikalahkan. Kini aku menyadari bahwa diriku benar-benar terancam dan sedang dalam keadaan bahaya. Bahaya akan degradasi kepribadian, moral, dan pola pikir. Aku merasa kekuatan jahat tersebut berusaha mengubah semua yang ada dalam diriku. Tidak ada satupun hal yang bakal dilewatkannya dari pribadiku yang unik dan mempesona ini. Sebagai manusia, aku harus tetap exist , entah bagaimana caranya yang jelas aku harus senantiasa ada dan terus hidup. Tidak ada yang boleh menghancurkanku, tidak ada yang boleh mengalahkanku, dan tidak ada yang boleh menguasaiku. Aku harus tetap menjadi aku yang sebenarnya, aku yang bebas, tidak tergantung dan terikat pada yang lain, aku yang bukan copy an, dan aku yang berani melawan demi kebenaran. Sungguh, kini kusadari betapa nikmatnya menjadi diri sendiri. Diri sendiri yang unik dan tidak terpengaruh yang lain. Biarpun banyak orang tidak suka, biarpun banyak orang mencemooh, biarpun banyak orang sinis, dan biarpun banyak orang berpikiran jelek tentangku, sungguh…., hal itu lebih membahagiakan bagiku daripada harus menjadi seperti yang mereka inginkan.
Satu hal yang pasti dan harus aku perbuat,. melawan….! Aku harus segera melawan pengaruh-pengaruh nista tersebut, melawannya sekuat tenaga, dan jangan mempedulikan perkataan orang. Selama tindakanku tidak melanggar agamaku, maka sah-sah saja bagiku, tidak perlu meminta pertimbangan orang, dan biarkan orang lain berkata apa adanya. Dalam hidup ini, tidak ada suatu tindakan yang berharga tanpa diiringi celaan. Maka jangan takut pada celaan, celaan hanya merupakan luapan hati orang lain karena ketidak mampuannya untuk bertindak sepertiku. Wahai diriku…., jangan kau takut hal itu…! Ikuti kata hatimu, ikuti nalurimu, lakukan perubahan, dan lakukan perlawanan…!! Jangan pernah takut, menyerah, dan jangan pernah menyesal untuk menjadi dirimu sendiri.
Oke…, lakukan perlawanan saat ini juga, jangan tunda lagi, dan jangan pernah menunggu hari esok untuk melakukan tindakan yang berharga. Berharga bagi dirimu, masa depanmu, keluargamu, dan orang-orang di sekitarmu. Namun, sebelum itu, orang yang hendak perang harus tahu dulu siapa lawan dan siapa kawan.? Oleh karena itu, ketahuilah dulu siapa lawan dan siapa kawanmu, Siapa saja mereka…? Ya…, aku tahu hal itu. Naluriku mengatakan, aku harus bertindak saat ini juga. Tiada yang lebih kupercaya selain diriku sendiri, tiada pula yang lebih kupercaya selain naluri dan intuisiku sendiri. Sesuai sarannya, maka aku akan bertindak Benar. kau…, aku harus tahu dulu siapa kawan dan siapa lawan. Biar kupikir-pikir dulu siapa saja mereka. Bukan hal yang mudah untuk menentukan siapa lawan dan kawan, sebab kadang mereka bermuka dua, mereka bagai musuh dalam selimut. Kadang mendukung dan kadang melawanku. Baik…., sepertinya aku sudah menemukan siapa saja mereka. Lawan…! Lawanku adalah kemalasanku, lawanku adalah nafsuku, lawanku adalah ketakutanku, dan lawanku adalah pengaruh yang merongrong dari luar. Kini mereka semua telah bersatu dengan mengatasnamakan nafsu. Dibawah bendera nafsu, dibawah perintah nafsu, mereka menyerangku dari segala penjuru, dari kiri, kanan, atas, bawah, depan, dan belakang. Pokoknya dari segala arah hingga tidak ada satu pun celah bagiku untuk bersembunyi dan menyembuhkan diri. Mereka tidak melukaiku, tapi mereka menyakitiku. Mereka tidak membunuhku, tapi mereka hanya memasungku. Hingga akhirnya pribadiku mati dan akhirnya aku menjadi abdinya. Ya…, sepertinya itulah tujuan mereka, membunuh pribadiku. Sungguh…, benar-benar kejam mereka, benar-benar buruk perangainya. Takkan kumaafkan mereka dan takkan kubiarkan pribadiku, harta berhargaku, mati begitu saja di tangan mereka.
Kawan…!! Kini…, setelah tahu siapa lawan, semakin jelas bagiku siapa saja kawan. Ya…, mereka adalah hati, lubuk hati yang paling dalam,. yang senantiasa ada dalam diri setiap orang. Dia selalu hidup dalam diri seseorang, tidak terkontaminasi, dan senantiasa suci, meski kadang setiap orang mengabaikan keberadaannya. Perkataan-perkataannya sungguh bijaksana, berwibawa, baik, dan berharga. Nasihat yang tepat bagi setiap diri. Di samping hati, berdiri naluri. Dia selalu membisikkan petuah-petuah hati ke pikirannku. Dan yang terakhir adalah rasio atau pikiran itu sendiri. Dialah sensor terakhir yang memutuskan apakah aku bertindak atau tidak, mengerjakan baik atau buruk. Dia adalah mesin utama setiap tindakan. Namun sayang…, dia gampang berubah. Kadang mengikuti nafsu dan kadang mengikuti hati, tapi bukan berarti dia munafik. Hanya saja dia belum menemukan alasan yang tepat untuk loyal pada salah satunya, antara hati atau nafsu.? Dia tidak bisa dipaksa dan tidak suka dipaksa. Untunglah…., saat ini dia berada di kubu hati, meski gerak-geriknya seolah hendak mengikuti nafsu. Aku hanya perlu meyakinkannya dengan alasan yang tepat dan kuat.Sekarang mereka semua –hati, naluri, dan rasio- telah bersatu. Dibawah pimpinan hati, mereka mengibarkan panji-panji kebaikan. Mereka siap berperang untukku dibawah bendera kebaikan. Aku hanya perlu percaya pada mereka, mengikuti apa kata dan saran hati. Aku percaya padanya, terlebih setelah tahu apa yang dilakukan nafsu terhadapku, yang cenderung merusakku dari segala arah. Kini…,para tentara hati telah siap berperang. Berkat hati, rasioku sudah jalan dengan baik. Genderang perang telah berbunyi dan peperangan telah dimulai.Hati menyuruhku untuk setia padanya, mengikuti kitab suci, menjaga agama, menuruti orang tua, dan senantiasa membiasakan perbuatan baik. ” Jangan pernah kau turuti nafsu lagi….!!!” kata hati. Namun, ternyata nafsu tidak tinggal diam, dia segera menyahut. Dengan lantang dia mengatakan, ” Jangan kau turuti hati, sesungguhnya dia adalah pembohong. Dia hanya mengajakmu pada kesusahan, kemelaratan, dan keterkungkungan. Dia hanya akan membebanimu dengan aturan-aturan, halal dan haram, dan kemuliaan-kemuliaan dunia-akhirat yang tidak kau ketahui benar tidaknya. Dia hanya menyesatkanmu dengan fatamorgana masa depan. Ikutlah berasamaku…, sesungguhnya aku adalah teman yang setia dan dapat dipercaya. Hanya dengan bersamaku kau bisa mendapat kebebasan, kebahagiaan, dan kenikmatan. Bukankah kau ingin menjadi dirimu sendiri…? Kutawarkan kepadamu kebebasan sehingga kau bisa berbuat apa saja sesuai keinginanmu dan menjadi dirimu sendiri…!!”.Hati tidak tinggal diam. Sambil berorasi dan membantai maklumat-maklumat nafsu, dia memerintahkan bala tentaranya untuk menghadang tentara-tentara nafsu. Pada naluri dia berpesan,” Lindungilah rasio. Bila dia berhadapan dengan musuh yang tangguh, segera bantu dia. Sesungguhnya dia masih lemah, mudah goyah, dan mudah dipengaruhi. Apapun yang terjadi jagalah ia…! Jangan sampai dia mati, tertawan, atau dikuasai musuh. Jika tidak, maka tuanmu pasti akan celaka. Korbankan segala apa yang kau miliki untuknya demi tuanmu.” Dengan patuh dan ikhlas, naluri pun menuruti perintah hati. Dia berjuang mati-matian bersama rasio sambil menjaganya. Pengorbanannya benar-benar besar. Begitulah yang terjadi….! Peperangan demi peperangan terus berlangsung. Kadang kebaikan menang dan kadang nafsu yang menang. Kadang rasio tertawan dan dikuasai lawan, kadang pula dia melawan dan memporak-porandakan lawan. Siapa pemenang dan siapa pecundang masih belum bisa ditentukan. Peperangan ini belum mencapai titik akhir. Peperangan ini takkan pernah berhenti dan akan terus berlangsung, hingga akhirnya ajal menjemput sang tuan yang diperebutkan. Hingga kini…, peperangan tersebut masih terus berlangsung dalam diriku. Antara hati dan nafsu….! Manakah yang harus kupercaya…?

4 komentar:

  1. Hatilah yang harus dipercaya,,tapi kekuatan nafsu untuk menggoda jauh lebih besar dibanding hati kecuali kita selalu bertawakal mengingat-NYA..

    Terbitnya matahari dari barat

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. perang sbenarnya perang melawan hawa nafsu

    BalasHapus